Dedhy Kasamuddin

News and Sport

Akhirnya!!! Kapolri Minta Maaf Soal Istilah Cicak Vs Buaya Oleh Kabareskrim

Ditulis oleh Dedhy Kasamuddin di/pada 2 November 2009

KapolriKapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri meminta maaf kepada masyarakat atas penggunaan kata “cicak dan buaya” yang disampaikan seorang pejabat Polri dalam menyikapi kasus hukum yang berujung pada penahanan dua pimpinan KPK non-aktif, Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah.

Kapolri pada pertemuan dengan pimpinan media massa yang difasilitasi Menkominfo Tifatul Sembiring di Jakarta, Senin, mengatakan, penggunaan kata “cicak dan buaya” tersebut tidak tepat, sebab Polri merupakan bagian dari unsur KPK sejak awal.

Dalam pertemuan tersebut, mewakili sejumlah tokoh media, Corporate Chief Editor Tempo Group Bambang Harymurti menyampaikan surat permohonan penangguhan penahanan Bibit-Chandra yang ditandatangani oleh lebih dari 20 pimpinan media nasional.

Kapolri selanjutnya berharap penggunaan dua kata tersebut tidak dipakai lagi oleh kalangan media.

Ia mengajak media dan masyarakat untuk mengawal proses penegakan hukum dalam dugaan penyalahgunaan wewenang dan dugaan adanya pemerasan yang dilakukan dua pimpinan KPK non-aktif tersebut.

Pada pertemuan tersebut hadir pimpinan media dan tokoh pers, antara lain Bambang Harymurti, Elman Saragih, Uni Z Lubis, Asro Kamal Rokan, Ahmad Mukhlis Yusuf, Budiman Tanurejo, Arif Suditomo, Saiful Hadi, Endi Bayuni, Thoriq Hadad, dan Ilham Bintang.

Kapolri menjamin proses penyidikan Bibit-Chandra akan berlangsung secara murni dan wajar. Saat ini berkas perkara Bibit-Chandra telah dilimpahkan polisi ke Kejaksaan Agung selaku penuntut umum.

Bibit dan Chandra ditahan oleh penyidik polisi sejak Kamis (29/10), ketika mereka memenuhi kewajiban melaporkan diri setiap Senin dan Kamis.

3 Tanggapan ke “Akhirnya!!! Kapolri Minta Maaf Soal Istilah Cicak Vs Buaya Oleh Kabareskrim”

  1. omagus berkata

    semoga baik-baik saja

  2. izisfm berkata

    semua permainan POLITIK KOTOR.ganti donk POLITIK ISLAM
    izisfm.wordpress.com

  3. Mirna H berkata

    Hiruk-pikuk akhir-akhir ini dalam isu hukum dan politik di negeri kita ini adalah rusaknya mentalitas hampir semua pejabat kita, budaya warisan yang terus bercokol. Cara mbuat jera mereka, dan memberantas kelakuakn mereka, kita semua mahasiswa seluruh Indonesia musti teguh pantang mundur dan mendesak terus Kapolri dan Kajagung mundur segera dan tidaklah cukup dan kita asti dibodohi hanya dengan kemungkinan mundurnya Susno dan Ritonga yang hari ini dikabarkan mundur dari jabatan mereka. Juga jangan pula hanya Anggodo dan Anggoro, karena sebenarnya bukan mereka saja yang paling bersalah. Yang terpenting justru dalang-dalang mereka itu siapa-siapa? Jadi jangan sampai kita dibohongi lagi-lag dengan permaianan ata-kata bersayap mundur tapi sebenarnya tak ada yang mundur, ditahan tetapi tak ditahan, dsb. Siapa-siapa sesunguhnya di balik mereka jauh lebih penting diungkap dan mundur. Kita minta Adnan Buyung dkk untuk benar-benar pro mahasiswa dan rakyat. Kita tak puas. Kalau perlu agenda kita jelas bisa jadi termasuk mengempeach dan jatuhkan Presiden SBY kalau dia hanya cari aman. Wapres Boediono kalau terlibat bias jadi. Semua harus sama di depan hukum tanpa kecuali. Revolusi pastinya sudah semakin dekat kalau mereka tetap main-main terus di saat rakyat semakin termiskinkan dan negara tidak punya KRL-KRL aman nyaman dan jalan-jalan represenatif di seluruh negeri kita ini padahal sudah merdeka 60 tahun lebih kita tetap kalah maju dengan Malaysia dan Singaura yang merdeka belakangan. Ini karena kooooruuupsi kelihatan atau tak kelihatan dengan memark-up proyek-proyek, sampai hari ini. Kawan-kawan kita semua selruh mahasiswa Indonesia dimana saja harus mengawal KPK. Hukum harus ditegakkan dengan mengarah semata kepada Keadilan dan Hati Nurani. Kita maju teruuuuuus! Ganyang bukan Malaysia tetapi justru pejabat-pejabat bermentalitas Orba itu semua! Maju terus pantang mundur! Padamu negeri kami berjanji…di mana? Lagi itu tak pernah dinyanyikan mereka! Semua pejabat-pejabar bermentalitas lama dan nyang harusnya sudah diganti generasi baru yang caanggih. Mereka musti dibuat jera dan diberi pelajaran oleh kita. Mereka haruslah kapok. Mereka tetap main-main di hadapan kita dan rakyat, mereka malah menjadi pemimpin-pemimpin di institusi-institusi penting negeri ini di kepolisian, kejaksaan dsb. Mereka tetap memperlihatkan keangkuhan dan sepertinya tidak takut sama sekali kepada mahasiswa dan rakyat di saat zaman sudah berubah. Gila. Itu semua warisan Orba yang harusnya sudah dibuang. Tetapi dengan laten terus ditampilkan mereka dan didiamkan oleh SBY. Semua berpura-pura seolah memberantas korupsi beneran, seolah-olah pro rakyat tapi terus-menerus menipu rakyat dengan lihatlah aa-ara berbicara dan tindakan gaya Orba. Ayooo, kita erus tekan mereka dengan kalau eprlu demo besar seluruh negeri minta mereka mundur kalau SBY terus-menerus tak tegas meminta pentolan-pentolan itu mundur. Ayo maju-maju, ayo maju-maju…., mari kita luruskan Reformasi jidil dua atau People power, men! Kalau tidak apa yang akan terjadi? Jangan-jangan semua hiruk-pikuk ini sebenarnya SBY menginginkan nyaman 5 tahun lagi sekadar menyibukkan rakyat dengan tontotan hiburan politik beginian dan supaya tak sempat membangun infrastruktur-infrastruktur pokok seperti jaringan KRL yang aman dan nyaman seJabotabek, jalan-jalan raya banyak dan represenatif selruh negeri, listrik tanpa byarpet, udara perkotaan yang bersih nyang sekarang ini nauzubillah minzalik masyaAllah sangat kotor. Mungkin lebih baik uang apapun dalam mengatasi global warming disini akan menghilang lenyap entah kemana. Makanya memilih presiden yang benar itu tak mudah bukan? Jangan ngawur lagi kita. Saatnya generasi muda yang berani dan pro rakyat maju semua memimpin dan mengemudikan Indonesia! Buang mereka semua mental-mental warisan lama! Ayo maju-maju, ayo maju-maju….

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>